Langkahnya terlihat mulai gontai ketika jam itu berdentang di angka 5 pagi. suara kokok ayam seolah gambaran singkat heningnya pagi itu. dia tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang. meskipun kakinya sudah tak sekuat itu, namun dia tetap berjalan menuju sebuah tempat yang masih dirahasiakannya. dalam perjalanan itu dia juga terlihat sangat letih karena dalam waktu hampir 3 jam dia tak juga berhenti berjalan. ada beberapa motor yang melaluinya namun dia seolah berada di dunianya sendiri yang sama sekali anti dengan suasana ramai juga lelah.
Detik itu juga dia masuk di dunianya sendiri. dunia yang masih terus membayang meskipun sudah lenyap dalam waktu hampir lima bulan itu. dia terperangkap oleh zona nyaman yang saking nyamannya rela meninggalkannya dan menenggelamkannya dalam mimpi-mimpi. kini dia mencoba keluar dari kubangan mimpi itu dan mencoba mengejar mimpi yang tega meninggalkannya itu. meski langkah mulai gontai dan denyut nadi berteriak tak rela dengan keadaannya yang ringkih, dia tetap melangkah karena dia yakin bahwa dirinya pasti bisa mendapatkan kembali mimpi itu.
di dalam gelap yang mulai merangkak hilang dan digantikan oleh senyuman kecil matahari pagi, dia sudah menempuh tiga per empat perjalanannya. tentu saja dia tak akan menyerah. beberapa sahabat sudah mengatakan padanya kalau dia hanya akan mempermalukan dirinya dengan mengiba seperti itu. dia sudah berusaha mengikuti saran sahabat sahabatnya itu namun hatinya sudah terlalu meradang hingga tak sanggup melakukan segalanya dengan akal sehat. sang mimpi sudah mencampakannya di tengah jalan, bukan, bukan di tengah jalan namun di awal perjalanan berbatu. sang mimpi tak mau dibawa dengan melewati perjalanan pilihan dia. sang mimpi memilih pergi dan memilih orang lain untuk menyandangnya lantas membwanya melewati jalan yang lebih nyaman. meski sang mimipi hingga kini masih sendiri.
sang mimpi sangat ingin memutuskan seluruh hubungan dengan dia. seluruh cara kecuali pesan singkat sudah dihapuskan. sang mimpi sangat tidak ingin berhubungan dengannya yang selalu memilih jalan sulit dalam hidupnya. dia setidaknya sadar jika sang mimpi sendirilah yang berniat mencampakannya bukan keinginan keadaan. sang mimpilah yang enggan menjalani hari menuju keberadaannya dengan segala keluh kesah seorang dia. dia sering kali menyendiri lantas menangisi kepergian sang mimpi namun dengan keyakinan jika sang mimpi hanya melakukan penyangkalan dengan kepergiaannya itu.
matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. tepat di belakang perjalanan dia. matahari berusaha memberi semangat dengan cahayanya yang hangat. dan dia tersenyum kecil.
“tinggal beberapa langkah lagi menujumu, mimpiku..” katanya pelan dengan wajahnya yang mulai pasi itu. beberapa pasang mata melihatnya iba, dan mereka punya penafsiran sendiri tentang dia yang melangkah gontai. ada yang mengatakan dia orang gila, ada yang mengatakan dia adalah gelandangan yang sedang kelaparan, dan ada yang mengatakan dia hanya sedang jalan-jalan karena pakaiannya tidaklah lusuh seperti para gepenk di luar sana. dia tetap berjalan meski jalanan mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan dan dia teringat sesuatu, takut takut di pagi hari ini sang mimpi akan meninggalkan peraduannya sebelum dia sampai di sana.
meski badannya sudah mulai melemah, tapi tekadnya untuk kembali merebut sang mimpi kembali berkobar. dia mengangkat badannya hingga tegak dan mulai melangkah mantap. tapi di dalam hatinya masih tersisa pertanyaan-pertanyaan kecil yang cukup menggelitik pemikirannya. apakah sang mimpi mau menerimanya lagi dengan pengorbanannya ini? atau sang mimpi hanya akan menganggap dia sebagai orang stress yang dengan gilanya mengejar-ngejar sang mimpi. sang mimpi akan smakin mencampakannya. dia sedkit merasakan ketakutan itu, namun dia tetap mempertahankan tekadnya itu.
“satu tikungan lagi dan semua segera selesai..” ujar nya menyemangati diri sendiri. mukanya makin pasi dan kekuatannya smakin lemah. tikungan terakhir itu sempat membuatnya ragu. karena gonggongan anjing dan suara kucing yang sangat familier di peraduan sang mimpi membuat sebuah de javu di otaknya. langkahnya sedikit bergetar. “semua pasti bisa diselesaikan!!” hatinya telah bulat bertekad.
tiga langkah lagi dia berada tepat di hadapan peraduan sang mimpi. di ketuknya perlahan pintu yang terbuat dari kayu itu dan angin menggoyangkan hiasan pintu berbentuk lonceng di hadapannya. pening berhenti di kepalanya. dia berhenti berjalan sehingga seluruh organ yang tadinya bekerja tiba-tiba berhenti dan tentu saja mereka kaget. dia merasakannya namun tekadnya terlalu kuat untuk diganggu oleh kenyataan tubuh ringkihnya. di ketuk sekali lagi pintu itu. dia mulai merasakannya dan berpegangan pada kursi bambu di sampingnya.
Pintu itu terbuka dan sebuah cahaya hangat menerpanya. senyum sang mimpi sekejap berubah menjadi kekagetan yang tidak alami. dan dia pingsan.
mimpiku, tetap menjadi mimpi, ternyata aku hanya menjalani malam yang melelahkan dengan mimpi tentang sang mimpi. aku hanya seorang gadis yang terperangkap dalam sebuah mimpi. mimpiku,, izinkan aku tetap bersamamu meski harus tetap tenggelam dalam dunia mimpi. aku tak ingin pergi. karena kenyataan telah melukaiku. aku ingin kau tetap menemaniku dalam mimpi. dalam mimpi.
che kudu ceria
080909